Senin 19 mei 2025, sekira pukul 16.30 rombongan jamaah Al-Hidayah Karanggeneng kabupaten Lamongan, sampai di desa martajasah Bangkalan. Yaitu kami menuju ke makam gurunya para ulama besar, Syaikhona Muhammad Kholil.
Kendaraan bus langsung di parkir sebelah Utara masjid seberang jalan, sehingga bisa berjalan kaki sekitar 100 meter, menuju area makam.
Pulau Madura yang mempunyai posisi geografis di Laut Jawa ini memang membuatnya menjadi memiliki banyak obyek wisata pantai. Namun tidak hanya pantainya saja yang wajib anda kunjungi saat anda pergi ke Madura, melainkan juga obyek wisata religi yang satu ini yang patut anda datangi, yaitu Makam Muhammad Syaikhona Kholil Bin Abdul Lathif.
Pulau Madura memang telah lama dikenal dengan wisata religinya lebih dari wisata alamnya dan tempat wisata yang satu ini juga sayang jika anda lewatkan saat anda mengunjungi pulau garam yang masih di provinsi Jawa Timur ini.
Makam Syakhona Muhammad Kholil terletak di Desa Martajasah, Kabupaten Bangkalan. Makam ulama besar umat Islam ini terletak 2 km dari pusat kota dan bersebelahan dengan pantai Sambilangan. Makam Syakhona Muhammad Kholil telah banyak dikunjungi ziarah dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan pengunjung dari Malaysia, Brunei Darussalam dan juga dari negara Islam lainnya.
Syaikhona Muhammad Kholil atau lebih dikenal dengan nama Syaikhona Kholil atau Syekh Kholil, Beliau dikenal sebagai Waliullah dan sebagai guru besar orang-orang yang memiliki karomah suci di negara ini, sebagai rujukan konsep gagasan atau pembentukan 'Nahdatul Ulama', melalui kedua muridnya, mereka; KH. Hasyim Asyari (almarhum), kakek Presiden keempat Indonesia yaitu KH. Abdurahman Wahid, dan KH. As'ad Syamsul Arifin (almarhum), pendiri 'Pondok Asem Bagus.
Ulama besar yang masih mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati dari sang ayah, yaitu KH. Abdul Lathif. Setelah dididik dasar-dasar ilmu agama oleh ayahnya memutuskan untuk memperdalam ilmu agama ke sejumlah pesantren di Bangkalan. Di antaranya adalah Tuan Guru Dawuh di Desa Majaleh, Bangkalan yang terkenal metode pengajaran yang unik, di mana dalam memberi pelajarannya tidak harus menetap di pesantren.
Kadang memberi pelajaran sambil berjalan mengelilingi Kota Bangkalan, terkadang di bawah pohon, di pinggir sungai atau di atas bukit. Selanjutnya Syech Kholil atau Syaikhona Kholil berguru kepada Tuan Guru Agung atau Bhujuk Agung. Pengajaran beliau tidak terbatas hanya teori dalam ilmu lahir dan batin tetapi memadukan secara bersama antara teori dan praktek.
Semasa hidupnya, Syaikhona Muhammad Kholil tidak hanya banyak menimba ilmu di pesantren di Indonesia melainkan juga di jazirah Arab. Cerita-cerita dari beliau saat menimba ilmu lah yang banyak dipakai oleh berbagai pesantren sebagai inspirasi dan motivasi.
Syaikh Kholil (biasa disebut Mbah Kholil) lahir di Kemayoran Bangkalan,pada hari Selasa tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M. Dan meninggal di Desa Martajasah Bangkalan dalam usia yang sepuh yaitu 106 tahun, pada tanggal 29 Ramadhan 1341 H, atau 14 mei 1925 M.
Syaikhona Kholil, berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH. Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah Abdul Lathif adalah Kyai Hamim, anak dari Kyai Abdul Karim. Kyai Abdul Karim adalah anak dari Kyai Muharram bin Kyai Asror Karomah bin Kyai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati. Maka tak salah kalau KH. Abdul Lathif mendambakan anaknya kelak bisa mengikuti jejak Sunan Gunung Jati yang merupakan kakek moyangnya.
Makam Syakhona, di pemakaman umum desa Martajasah, sebuah desa di sisi barat kota Bangkalan. Karena karomahnya yang terkenal inilah makam beliau banyak dikunjungi para peziarah dari dalam maupun dari negeri tetangga. Tercatat hampir tiap hari sekitar ratusan orang bisa mendatangi Makam Muhammad Syaikhona Kholil.
Syakhona Kholil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Buyut beliau Syarifah Khodijah putri Sayyid Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Ali Akbar bin Sayyid Sulaiman Kanigoro Mojoagung. sedangkan ayah Kiai Abdul Latif Adalah Kiai Hamim bin Muharram bin Abdul Karim.
Pada usia 24 tahun, Syekh Kholil menikahi Nyai Asyik, putri Lodra Putih.
Syekh Kholil pernah berguru kepada beberapa ulama, di antaranya:
K.H. Abdul Lathif (Ayahnya),
K.H. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban,
K.H. Nur Hasan di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan,
Syekh Nawawi al-Bantani di Mekkah,
Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi,
Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan di Mekkah,
Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki di Mekkah,
Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani di Mekkah.
Syaikhona Muhammad Kholil atau biasa dipanggil Kiai Kholil Bangkalan, Beliau ialah seorang ulama yang cerdas dari kota Bangkalan, Madura. Beliau telah menghafal al-Qur`an dan memahami ilmu perangkat Islam seperti nahwu dan sharaf sebelum berangkat ke Makkah.
Syaikhona (tuan kami) Muhammad Kholil Bangkalan atau Syekh Kholil Bangkalan adalah mahaguru para ulama dan kiai di Indonesia. Dikatakan begitu, sebab beliau sukses mencetak banyak ulama yang berpengaruh di Nusantara.
Beberapa murid beliau yang menjadi ulama masyhur di Indonesia antara lain Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH R As'ad Syamsul Arifin. Bahkan, ketiga murid Syekh Kholil Bangkalan ini dianugerahi gelar pahlawan nasional.
Beliau pertama kali belajar pada ayahnya, Kiai Abdul Lathif. Lalu belajar kitab ‘Awamil, Jurūmīyah, ‘Imrīthī, Sullam al-Safīnah, dan kitab-kitab lainnya kepada Kiai Qaffal, iparnya. Kemudian beliau melanjutkan belajar pada beberapa kiai di Madura yaitu Tuan Guru Dawuh atau Bujuk Dawuh dari desa Majaleh (Bangkalan), Tuan Guru Agung atau Bujuk Agung, dan beberapa lainnya sebelum berangkat ke Jawa.
Masjid yang dibangun pada pertengahan tahun 2005 tepat di samping pesantrennya ini semenjak selesai dibangun telah menjadi salah satu ikon wisata religi yang sangat terkenal di pulau Madura. Di area pemakaman tersebut juga ada beberapa makam lain yang bisa anda ziarahi, yaitu makam dari ayahanda Muhammad Kholil, Abdul Lathif yang terletak 100 meter dari makam Kyai Kholil.
Selain itu ada juga makam-makam lain yang terpisah yang kabarnya adalah makam dari anggota keluarga keraton.Beranjak ke arah barat daya sekitar 500 meteran, ada makam lain yaitu makam waliyulloh yang di sampingnya terdapat sumur tua.
Obyek wisata untuk religi memang berbeda dengan obyek wisata lainnya yang digunakan untuk bersenang jadi wajar jika tidak banyak fasilitas-fasilitas yang disediakan pemerintah daerah bagi tempat yang satu ini. Namun ada beberapa fasilitas yang bisa anda dapatkan yaitu kamar mandi umum, yang berada di sebelah kiri masjid serta tempat berwudhu yang terpisah antara untuk perempuan berada di sebelah timur masjid. Beberapa bangku untuk tempat menunggu giliran berziarah, dan bagi anda yang merasa haus atau lapar jangan khawatir tidak menemukan tempat makan karena di luar lokasi ini banyak sekali warung-warung yang menjual makanan khas Madura dengan harga yang sangat friendly di kantong. Ada juga beberapa toko-toko souvenir yang berjajar di sekitar masjid jika anda berminat membeli oleh-oleh sebelum kembali pulang.
Jika kita berswafoto disini juga tidak bisa bebas karena anda harus menghargai tempatnya dan juga banyaknya pengunjung yang hadir. Namun anda tetap bisa mengambil gambar dari pemandangan-pemandangan di sekitar area makam karena seperti yang disebutkan di atas ada beberapa makam lain di lokasi ini. Yang paling penting jangan sampai kegiatan berfoto-foto anda mengganggu niat wisata religi yang utama di makam ini.
Mengingat lokasi makam ini di tengah kota, tentu tidak sulit bagi para wisatawan untuk menjangkaunya. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun transportasi umum. Jika anda dari luar Madura anda bisa menyebrang melalui jalur laut dengan kapal feri dari pelabuhan Tanjung Perak lalu lanjutkan perjalanan dengan angkutan umum menuju ke Bangkalan. Hampir semua orang di sana mengetahui lokasi Makam Muhammad Kholil. Bagi anda yang memili jalur darat bisa berkendara melalui jembatan Suramadu lalu langsung menuju ke lokasi makam melewati jalan raya Bancaran. Anda juga bisa bertanya-tanya kepada penduduk di sekitar jika masih merasa bingung.
Makam Muhammad Syaikhona Kholil
Tempat wisata religi ini buka setiap hari selama 24 jam namun bisa tutup jika ada acara tertentu atau peringatan keagamaan, namun selain itu anda bisa datang dengan rombongan, kapanpun yang anda mau. jika anda berkunjung dengan rombongan maka ketua kelompok cukup mencatatkan nama rombongan pada buku tamu sebelum anda memasuki areal pemakaman serta memberikan sumbangan se Ikhlasnya pada juru kunci.
Jika kita ke makam Muhammad Syaikhona Kholil sebaiknya memakai pakaian yang rapi dan sopan, memakai baju muslim atau setidaknya baju sopan yang tertutup.
Menghormati peraturan yang ada di sana
Jika mengadakan bacaan tahlil atau Istighosah sebaiknya dengan suara yang lirih atau tidak terlalu keras, agar tidak menggangu peziarah yang lain.
Tidak membuang sampah sembarangan agar tidak memberikan dampak yang tidak bersih di lingkungan Masjid, yang merupakan tempat wisata religius yang kita banggakan.(Sutikno Arie).
Komentar
Posting Komentar