Pergaulan Sesama Muslim

Bismilahirrahmanirrahim, segala puji bagi Allah, kami memuji dan memohon pertolongan serta memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari segala kejahatan. Sehingga dalam hati kami dijauhkan dari segala penyakit hati. Semoga Allah, memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw, melaksanakan taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Dapat saling membina hubungan baik dengan sesama muslim dan manusia lainnya.
Allah SWT berfirman (QS. Al-Hujurat : 10).
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Innamal-mu`minụna ikhwatun fa aṣliḥụ baina akhawaikum wattaqullāha la'allakum tur-ḥamụn.
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Bagaikan Bangunan
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]
Bagaikan Tubuh
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim].
Bagaikan Cermin
الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” [sanadnya Hasan].
Bagaikan Lebah
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ 
وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ

“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi].

Bagaikan Pohon Kurma
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ , مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ.

” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermampaat bagimu.” [HR: Thobrani].
Kerjasama adalah kunci merajut kebersamaan. Tidak egois dan tidak merasa diri paling penting dan berjasa. Gotong royong dan tenggang rasa merupakan sikap mukmin yang harus dibangun dalam diri seorang muslim.

Suka-duka dilalui bersama. Ringan sama dijinjing, ringan sama dipikul. Sikap saling memiliki merupakan lambang persaudaraan sejati.
Cermin adalah tempat untuk mengetahui apa yang sudah baik dan apa yang masih belum sempurna. Kebaikan yang ada semoga menjadi teladan bagi orang lain. Sedangkan kekurangan atau keburukan menjadi sentilan bagi diri sendiri untuk memperbaiki dan bagi diri orang lain, untuk tidak menyontohnya.

Seorang mukmin mampu menempatkan diri pada posisinya. Orang mukmin hanya melakukan yang baik-baik, makan yang baik-baik, berkata yang baik-baik. Apapun keadaannya, ia akan berusaha melakukan yang baik-baik serta membawa manfaat bagi saudara yang lainnya.

Orang mukmin adalah orang yang punya konstribusi besar kepada sesama. Apapun akan ia lakukan asal itu untuk kebaikan bagi orang lain dan tidak melanggar perintah Allah Subhanahu Wata’ala. Keberadaan seorang mukmin bermanfaat bagi orang banyak.

Masih banyak sekali perumpaman yang disampaikan Rasulullah Muhammad Saw,  di dalam hadits nya, juga termasuk dalam Al-Qur’an. Berbagai perumpamaan ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berakal serta yang mau berfikir.

Rasulullah ﷺ menggunakan bangunan sebagai perumpamaan. Dan kita tahu bahwa sebuah bangunan itu terdiri dari berbagai macam bahan yang berbeda. Ada batu, pasir, tanah, semen, besi, dll. Hal ini menunjukkan keragaman. Namun, ketika keragaman itu bersatu maka itu akan saling melengkapi dan menguatkan. 

Bahkan banyak analogi lainnya, misalnya sapu lidi. Jika bersatu, maka akan menjadi satu benda yang berguna, kuat, dan tak mudah patah. Namun, apabila berdiri sendiri-sendiri, lidi hanyalah sebuah benda yang mudah sekali dipatahkan dan tidak bernilai.

Kalau melihat secara zahir (hadist) itu hanya sekadar kabar. Akan tetapi sesungguhnya maknanya adalah perintah, dorongan untuk melakukan kerjasama dan taawun antar kaum mukminin.”
Ahlus Sunnah menganjurkan tolong-menolong sesama kaum Muslimin dalam kebaikan dan taqwa berdasarkan syariat, bukan  hawa nafsu.

Sebagaimana firman Allah.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS.Al-Maa-idah: 2]

Disebutkan dalam kitab Sahih Bukhari Muslim sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ. رواه البخاري ومسلم

Artinya: "Dari Abi Musa dari Nabi SAW., beliau bersabda, “Sungguh (sebagian) mukmin kepada (sebagian) mukmin lainnya seperti bangunan, yang menguatkan sebagian dengan sebagian lainnya.” Dan beliau menyilangkan jari-jarinya. “(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalil tentang persaudaraan banyak disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits. Islam mengajarkan umatnya untuk terus menjalin persaudaraan dan menjaga hubungan baik antarsesama atau hablumminannas.

Baik itu terhadap sesama Muslim maupun dengan nonmuslim. Sebaliknya, Islam sangat membenci dan mencela perpecahan dan permusuhan.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 10.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." [QS. Al Hujurat : 10]

Allah SWT menciptakan umat manusia bersuku-suku dan berbeda agama, ras, golongan dan warna kulit serta berbeda bahasa agar mereka saling mengenal dan menjalin persaudaraan untuk bersama-sama memakmurkan bumi. 
Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13) }
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS. Al Hujurat :  13  ].
Sesama Muslim Bersaudara
"الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ"
Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menjerumuskannya.

Menolong Saudara Ditolong Allah SWT.
"وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ"
"Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya."

Diamini Malaikat.
"إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلِهِ"
Apabila seorang muslim berdoa untuk kebaikan saudaranya tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka malaikat mengamininya dan mendoakan, "Semoga engkau mendapat hal yang serupa,"

Dilapangkan Rezeki
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Uqail dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda: "Barangsiapa ingin lapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi." (HR. Bukhari) [No. 5986 Fathul Bari] Shahih.

Semoga untaian kalimat yang sederhana ini bisa membawa manfaat bagi saya pribadi dan bagi keluarga, handai taulan serta saudara yang membacanya, bisa meningkatkan kualitas ketaqwaan kita terhadap Allah SWT, lebih baik. Maha suci Allah, saya memohon kepada Allah SWT, tiada Dzat yang berhak di sembah kecuali Dia, Maha Hidup, Maha berdiri sendiri [ tidak butuh segala sesuatu] Kepada-Nya, saya bertaubat. (Sutikno Arie)

Komentar