Hari Raya Ketupat

Ketupat merupakan salah satu makanan lebaran yang terbuat dari beras asli dan biasanya dibungkus menggunakan janur atau anyaman daun kelapa atau bisa juga daun lontar yang masih muda. Ketupat bisa disajikan bersama dengan berbagai lauk seperti rendang, opor ayam, semur tahu dan telur, sayur lodeh khas lebaran dan masih banyak lagi. Selain itu, ketupat juga dapat ditemukan dalam masakan seperti ketoprak, kupat tahu, dan lain sebagainya.
ketupat berasal dari istilah bahasa Jawa yakni "ngaku lepat' yang memiliki arti mengakui kesalahan dan juga memiliki arti laku papat (4 perilaku) yang melambangkan ketupat dari empat sisi yaitu lebaran (pintu maaf), luberan (berlimpah), leburan (saling memaafkan), dan laburan (bersih dari dosa-dosa). 

Tradisi tersebut umumnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Beberapa tradisi yang khas ini bahkan telah menjadi hal wajib terutama di daerah Pantura atau pesisir pantai pulau Jawa.
Beberapa daerah, banyak masyarakatnya yang memiliki keahlian membuat ketupat, bahan yang digunakan biasanya sudah tersedia di halaman pekarangan rumah, yaitu daun dari pohon kelapa atau kalau di daerah yang banyak menghasilkan nira misalnya daerah Tuban dan sekitarnya masih menggunakan daun ental atau biasa disebut daun lontar,  ketupat dibuat sendiri dengan menganyam daun atau janur membentuk persegi empat kemudian mengisi anyaman ketupat dengan beras dan merebusnya beberapa jam. Tetapi sekarang banyak juga pedagang yang menjual ketupat yang berada di pinggiran jalan jika waktu musim setelah lebaran yang siap makan lengkap dengan kuah gulainya atau kare.

Ketupat sudah diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sejak abad ke-15. Sunan Kalijaga menggunakan sajian ketupat untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di wilayah Pantura, daerah Lamongan dan Tuban.

Raden Mas Sahid atau yang dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Memperkenalkan Kupatan dengan filosofi yang bermakna.

Berbagai hidangan khas lebaran. kupatan dalam bahasa jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat yang artinya mengakui kesalahan.
Kupatan ini juga dikenal dengan sebutan ketupat. Lebaran ketupat dilaksanakan tiap 8 Syawal yang mana sebelumnyaumat Islam melakukan puasa Syawal pada tanggal 2-7 Syawal.

Perayaan tradisi lebaran ketupat ini dilambangkan sebagai simbol kebersamaan dengan memasak ketupat dan memberikan nya kepada kerabat ataupun tetangga. Ada juga yang di bawa ke masjid kemudian di buka dengan beberapa nasehat oleh para Kyai, misalnya di daerah Gresik dan sekitarnya.

Tradisi kupatan merupakan bentuk ajaran islam pada masyarakat. Hal ini merupakan cara Sunan Kalijaga memberikan ajaran islam terkait bersyukur kepada Allah Swt, bersedekah, dan saling menjalin silaturrahim. Sunan Kalijaga menjadikan tradisi kupatan sebagai media untuk meyebarkan syi’ar agama.
Ada dua pandangan mengenai asal usul nama ketupat. Pertama, ketupat dianggap berasal dari bahasa Jawa 'ngaku lepat' yang artinya mengakui kesalahan atau khilaf.

 Istilah ini juga mungkin yang membentuk tradisi sungkeman untuk meminta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat pada orang yang lebih tua.

Sementara beberapa orang lainnya menganggap ketupat berasal dari istilah 'laku papat' yang artinya empat tindakan. Istilah yang ini bermakna Lebaran, luberan, leburan, dan laburan.
Maksud pertama adalah lebaran sudah usai. 'Luberan' artinya melimpah yang dimaksudkan untuk mengajak bersedekah. 'Leburan' maksudnya dosa dan kesalahan sudah habis karena setiap umat saling memaafkan. Kemudian 'laburan' berarti 'penjernihan' supaya setiap orang menjaga kesucian lahir dan batin.

Bagi masyarakat daerah pedesaan, sampai saat ini membuat ketupat masih sering di lakukan dengan para tetangga sekitar tempat tinggalnya, sambil mengobrol di halaman rumah. Juga ada yang membuat kue lepet dengan janur yang di ikat mengerucut, di isi dengan beras ketan kemudian di rebus, dan biasanya ini di sajikan bersamaan dengan kupat. (Sutikno Arie).

Komentar